Laman

Minggu, 05 Oktober 2008

PUISI MUNAJAT I

Ya Robbi, kembali aku menengadahkan kedua tangan ini
Di Gerbang keagunganMu aku bersimpuh
Memohon Ridlo Mu atas hidupku
Dari seorang hamba yang fakir ibadah ini

Ya Robbi, sesungguhnya aku malu tuk berdo'a meminta
Karena begitu mudah aku berbuat apa yang Engkau larang
Begitu mudah aku meninggalkan apa yang Engkau perintahkan
Begitu sedikit aku bersyukur, padahal nikmatMu mengalir setiap waktu
Namun kemana lagi ya Allah....hanya kepada Engkau, manusia memohon segalanya

Ya Robbi,
Lidah yang bertasbih ini, sering kugunakan untuk berucap kotor
Mata yang membaca firmanMu, sering kugunakan kemaksiatan
Kening yang sujud tersungkur, sering tertengadah angkuh seolah lebih baik dari yang lain

Sungguh malu aku ya Robbi..., dengan wajah seperti apa aku akan menghadap Mu ketika Engkau memanggilku

Ya Robbi, apabila azab telah engkau tetapkan, tak ada yang mampu menghalanginya
Apabila kenikmatan telah engkau tetapkan, tak ada yang mampu menghalanginya

Ya Robbi, jadikan kami orang orang yang selalu menegakkan agamaMu
Meninggikan dan mensucikan namaMu

Ya Allahhu Robbi, tetapkanlah iman Islamku dalam dalam sakaratul mautku
Dalam tarikan nafasku yang terakhir, jadikan hanya namaMu yang kuucap. Amin

PAKU DI POHON


Aku bertanya " Ayah mengapa begitu banyak paku menancap dibatang pohon ini?...." itu rahasia anakku.....", Maukah engkau beritahukan rahasia itu, akau akan berbuat apa yang Ayah mau..." setengah memaksa.

"Anakku sesunggunya sejak engkau akil baligh , setiap kali engkau berbuat yang mengecewakan hatiku aku tancapkan sebuah paku di pohon ini..., dan setiap kali engkau kuketahui beramal baik, aku cabut sebuah...", diam sebentar kemudian Ayahku beranjak pergi...

Ku tatap wajah ayahku yang sudah keriput dengan rambut yang sudah memutih,...tercenung dalam kesenyapan dan kesedihan yang mendalam,...jadi inilah "sedikit" gambaran diriku. Beberapa paku telah tercabut namun meninggalkan bekas yang carut marut pada batang pohon ini, dan masih begitu banyak yang menancap,...ada gerakan air dimataku terasa begitu sesak didada...sangat menekan...

Inilah gambaran aku dimata seorang manusia, bagaimana aku disisi Tuhanku?
"wa nahnu akrobu alaihi min hablilwarid" Kami lebih dekat dari urat nadi kalian...."

...duh Gusti Allah,...hampura abdi...

MALAM TAKBIRAN DI BANDUNG (1429/2008)


Waduuh...rameee buanget, petasan, geng motor, beduk diatas mobil, orang pacaran, yang mabok, tapi yang takbiran di masjid pun tak kalah ramai....
Aku mengira-ngira apa yang ada dalam benak masing-masing peran di atas tentang malam takbiran ini,....tapi sudahlah, malam ini tidak ada shalat tarawih,...gak apa masih ada tahajjud.

THE MAGIC OF RAMADHAN (1429/2008)


Dalam bulan Ramadhan tahun ini aku memperhatikan banyak hal-hal positif yang terlihat. banyak orang yang berubah menjadi baik, ramah, berfikir positif.
Suatu waktu aku melihat sebuah mobil mewah berjalan perlahan...aku bertanya gerangan apa yang sedang dicari, lalu mobil itu berhenti dekat seorang pengemis yang sedang duduk dipinggir jalan, tiba tiba dari dalam mobil seseorang menyodorkan bungkusan kecil,....dari bentuknya aku menduga itu sebungkus nasi, mungkin untuk berbuka puasa (andai orang itu puasa)..Subhanallah.
Suatu waktu jam 2.30 pagi ketika aku sedang mencari makan untuk sahur, aku melihat beberapa mobil berhenti sambil menyalakan lampu hazard, wah!....ada kecelakaan karena ada beberapa orang posisi tertidur disapmping mobil tersebut, kemudian kudekati karena penasaran, ternyata sekelompok anak muda sedang memberikan bungkusan makanan untuk orang2 tersebut ,..."untuk sahur"...sapanya, (andai orang2 itu berpuasa)....Subhanallah...
Terlepas dari apapun motivasinya, aku berpikir mereka menganggap bulan ini adalah bulan untuk melakukan sesuatu yang baik, menghindari hal-hal buruk.

Suatu pemandangan yang mungkin tidak terlihat dibulan lainnya,...Subhanallah Ramadhan... ya Allah engkau telah ciptakan bulan Suci ini...aku bersyukur dapat melihat pemandangan ini, mudah mudahan akan terus seperti ini ....Amin.

Myself

Namaku Wahyu, atau nama panggilan rumah yaitu "Akang", tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan hierarki keluarga karena kakekku pun memanggilku Si Akang hehe...selalu jadi paling tua , tak apalah yang penting akrab,....