
Lewat tengah malam, ku masih terjaga,
Tertampak langit-langit masih yang itu, berlumut menandakan waktu
Kepala terdiam menatap dalam, kupejam mata sejenak
Jiwaku berlari menembus hutan,jauh dan semakin jauh kedalam
Ada telaga ditengah rimbun belantara, bertanya telaga apakah ini
Airnya beriak tak tembus cahaya, dalam atau landaikah ia
Kutatap air telaga, tak jua bisa bercermin
Hening ku merenung, lembut tersapu angin Perlahan tapi pasti, jiwa pun tenang
Menyadarkan pada hakikat diri sbagai manusia, Fitrah yang ditulis untuk kalifah di bumi
Baik dan Buruk berangkai cerita, mata berkaca mengenang dosa
Perlahan tapi pasti riak pun tenang, lumpur mengendap dasar tertampak
Cahya menerangi dalam telaga, begitu Indah ternyata
Saat terbersit hawa nafsu, air beriak mengacau lumpur
Tiada lagi ada keindahan telaga, laksana air yang terhampar saja
Saat kesadaran menyentuh, kembali ia membening dan bercahaya
Ikan-ikan berenang indahnya, Oo..adakah ini bernama telaga hati?
Mata terbuka ke alam nyata, masa pun berganti
Tertampak langit-langit masih yang itu, berlumut menandakan waktu
Kuingat sebuah telaga, dengan ikan2 dan air yang bening
Kan kujaga agar tak beriak dan berlumpur
Mengalir halus ke tempat yang rendah sebagai fitrah
Semoga istiqamah..
Ilustrasiku untuk :
irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyya
[AlFajr:28] Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya.
fadkhulii fii 'ibaadii
[AlFajr:29] Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku,
wadkhulii jannatii
[AlFajr:30] masuklah ke dalam surga-Ku.
