Laman

Senin, 06 Oktober 2008

NGANGON DOMBA


Lebaran 1429 ini aku bertemu dengan sanak saudara, diantaranya ia menyebut dirinya Wa Akung.
Awalnya banyak kita banyak berbincang berbagai hal. Setelah sekian lama, tibalah pada topik yang lebih spesifik dan pribadi..."Anaking.." dia berkata dan melanjutkan dalam bahasa sunda " kalau sudah tua seperti ini segala sesuatu tergambar begitu jelas, kejadian sejak awal hingga kini..." , aku diam mendengarkan. " Sangat jelas...seperti sebuah film..", aku mengangguk. " Ada satu kejadian yang hingga kini jadi pikirtanku,...seperti biasanya uwa ngarit untuk makanan domba, habis rumput di lahan uwa, maka mencari di lahan lain. Suatu hari uwa mengarit ditempat orang, begitu lebatnya sehingga uwa ngarit begitu bersih dan rapih...., uwa pulang, keesokan harinya diberikan kepada domba-domba untuk dimakan".
Tidak ada yang istimewa, beberapa hari berikutnya uwa kembali berniat mengarit ditempat orang. Di perjalanan bertemu dengan seseorang" Kemana Kang?" orang itu bertanya" Ngarit.." jawab Wa Akung, kemudian mereka duduk berdua, orang itu berkata"Saya heran sekali, rumput di pematang kebun ini bersih sekali, padahal saya membutuhkan, ini pasti orang pintar yang ngarit...." Dug! kaget Uwa Akung, karena dialah sesungguhnya yang mengarit rumput pada hari itu. Dengan perlahan Uwa berkata" Ipin...siapakah yang memiliki kebun ini...?"Saya...!"kata orang itu. Kembali perlahan Uwa berkata" Ipin...halalnya suatu barang karena ada ucapan, sekarang akang mau bilang maaaaaf bahwa yang ngarit rumput Ipin itu adalah Akang sendiri..."Aduh Akang punten, bukan maksud Ipin mau menyidir, tapi Ipin benar-benar tidak tahu..." Saya yang mohon maaf Ipin, ..mohon dihalalkan..."Halal Akang, halal....." jawab orang itu.
"Nah gitu ceritanya anaking..." sejak itu Uwa langsung menanam rumput di tanah sendiri dan tidak pernah mau mengambil rumput, meskipun itu tanah milik pemerintah. Selanjutnya ia berkata bahwa ia jadi berpikir kebelakang, bagaimana kejadian yang lalu? apakah darah yang mengalir ini telah menjadi kotor...? "Uwa kalo si mamah nggak ada suka termenung memikirkan hal itu...". Aku mengangguk-angguk namun berkecamuk dalam diri mulai menghitung diriku...

Ampuni kami ya Allah.

Tidak ada komentar:

Myself

Namaku Wahyu, atau nama panggilan rumah yaitu "Akang", tapi sama sekali tidak ada hubungannya dengan hierarki keluarga karena kakekku pun memanggilku Si Akang hehe...selalu jadi paling tua , tak apalah yang penting akrab,....